Tuesday, February 01, 2005

Ketundukkan Sebagai Konsekuensi Logis


Pada kenyatannya manusia merupakan kesatuan yang utuh dan totalitas yang tidak terbai-bagi, ia pun memiliki potensi kemerdekaan di mana ia bebas dalam melakukan pilihan – pilihan dialektis yang dihadapinya dengan resiko ditanggung sendiri. Resiko yang akan ditanggung termasuk resiko balasan di akhirat nanti.
Namun, selain Alloh memberikan kebebasan, Ia juga menjelaskan akibat-akibat logis yang akan diterima dari konsekuensi pilihan yang di ambil manusia. Firman Alloh dalam
qs. 2 : 256, Al Bayyinah : 5-8.
Selain memperoleh kebebasan dalam menentukan pilihan, ia juga bebas menentukan tujuan, cita-cita dan tindakan siyasah dalam memfungsikan potensu dirinya di dunia sebagai khalifah Alloh. Oleh sebab itu. Manusia dalam menerima atau menolak kehendak illahi tidak secara statis dan otomatis tetapi didasari kesengajaan dan sukarela serta merupakan proses keyakinan yang dinamis.
Seorang manusia harus terus berusaha menjadi orang yang lebih baik dengan tetap menyesuaikan diri dengan kehendak illahi. Oleh karena itu, sejalan dengan eksistensi dan misi otentiknya, manusia berkewajiban tunduk secara totalitas kepada Islam denagn cara melaksanakan kehendak2 Alloh. Sebab, nilai kemanusiaan yang sejati ditentukan oleh hubungannya dengan Zat Yang Maha Mutlak. Fungsi fisik dan psikis yang membentuk perilaku hidupnya dituntut untuk selalu menyelaraskan dengan hukum-hukum Alloh, baik yang ada dialam wahyuNya atau yang terkandung di dalam tata alam semesta. Wahyu yang telah diturunkan melalui nabi dan para rosulNya mengarahkan kemanusiaan mencapai kwalitas puncak yaitu ketaqwaan kepada Alloh SWT.
Sedangkan pengetahuan, hukum-hukum yang ada didalamnya, ancaman dan sangsi-sangsi yang diumumkan dapat meninggikan derajat kemanusiaan setinggi-tingginya. Untuk itu, ketundukkan yang total kepada islam merupakan syarat bagi keberlangsungan seseorang dalam memerankan fungsi khalifahnya dijalan Alloh yang menyebabkan ia terhindar dari jalan syaithon yang menjerumuskan manusia ke jurang kehinaan. Firman Alloh dalam qs. 2 : 208.
Dikarenakan manusia dalam melaksanakan tujuan dan misinya memiliki potensi kemerdekaan dan kebebasan, ia menjadi makhluk yang berpotensi untuk melakukan penyelewengan atau setidak-tidaknya terselewengkan dari batas-batas istikhlaf yang telah ditentukan oelh Tuhannya. Sebab, tidak mustahil kebebasan yang sejatinya merupakan anugrah illahi yang harus disyukuri justru mendorong seseorang berlaku sombong. Salah satu kesombongan yang dipicu oleh rasa kebebasan yang tak terkendali ialah keengganan untuk diatur dan ini dapat merosotkan nilai kemanusiaan seseorang serendah-rendahnya. Firman Alloh dalam qs. Al A’raf : 166.
Oleh karena itu, dalam menjalankan misi khalifah, manusia mutlak memerlukan “tata nilai dan hukum-hukum yang membentuk pemahaman, mengatur prilakunya, serta meninggikan harkat dan derajat kemanusiannya. Tata nilai dan hukum-hukum itu diperlukan demi memelihara keteraturan yang telah menjadi esensi semua ciptaan Alloh dan menjaga kefithrian manusia yang merupakan bagian utama tugas khalifahnya. Oleh sebab itu, hukum-hukum dan nilai-nilai ini harus bersifat komrehensif dan integral, sesuai watak dan kebutuhan manusia itu sendiri, serta dapat menjamin keteraturan dan kesejahteraannya. Hukum-hukum itulah yang disebut syariat yang meliputi segala aspek kehidupan dan keberadaannya dibutuhkan oleh manusia sepanjang zaman.
Ns : Buku Manusia & Kekhalifahan Kar.Abu Ridho.

No comments: